WARKU—Jakarta| BELAKANGAN ini Arlisah Sri Utami (45 tahun) makin sibuk keliling kota dan jarang meluangkan waktu buat keluarga di rumah. Namun uniknya, super kesibukannya sebagai pengacara dan Kurator itu tidak memutuskan hubungan mesra dengan anak-anak dan suaminya. “Mereka mengerti keadaan saya sebagai pengacara. Yang penting kami saling menjaga kepercayaan dan aktif membangun komunikasi serta saling mendoakan,” ucap ibu tiga anak ini, yakni Ferdiansya (24), Firman (15), dan Asyifa (9).
Arlisah menyadari beratnya menjadi seorang ibu, yang berarti siap menanggung banyak beban karena kehidupan keluarganya yang—terutama terhadap kepentingan anak-anak—harus terus dilanjutkan. “Mereka (anak-anak) tidak hanya membutuhkan makanan di atas meja, tapi juga kedekatan fisik dan hati, terpenuhinya kasih sayang, dan bagaimana menenangkan mereka saat menangis atau beragam masalah mereka yang perlu didengar dan dicarikan solusinya,” ungkap perempuan kelahiran Surabaya pada 31 Juli 1981, ini.
Dari sekian banyak pengacara perempuan di Surabaya, Arlisah disebut juga salah satu sebagai pengacara tercantik di kota pahlawan itu. Selain cantik dan super lincah, sepak terjangnya di dunia hukum tidak diragukan lagi. Perempuan yang punya hobi nyanyi dan masak ini dikenal tangguh dalam membela Klien. Dengan memberikan pelayanan jasa hukum, Arlisah sangat berpegang teguh pada nilai-nilai integritas, kejujuran, kepercayaan, dan komitmen dalam membela kepentingan Klien. “Saya lebih mengutamakan pendekatan penyelesaian perkara-perkara pidana maupun perdata lewat jalur keadilan restoratif atau restorative justice, dan selalu berhasil manis,” kata wakil sekretaris DPC Peradi SAI Sidoarjo Raya, ini.
Berpenampilan cantik, bersih, punya tubuh seksi, serta menarik, Arlisah mengaku tidak mudah menjalankan profesi pengacara. Selain kerap digoda oleh sesama penegak hukum seperti polisi, jaksa, dan hakim, tak sedikit pula Klien pria berusaha ajak ketemu dengan modus curhat. Berlahan perempuan yang akrab disapa Lisa ini mulai paham beragam motif para penegak hukum, salah satunya minta photo bareng dan berujung minta nomor handphone. “Tapi tak pernah saya berikan,” ujarnya sambil ketawa.
Herbert Aritonang








Semangat terus. Jangan kasih kendor!